ah....
lupakan dulu kisah cinta monyet dalam kenangan...
hari kamis 12 juli 2001, aku menginjakkan kaki melangkah masa yang sangat sulit, ketika harus meninggalkan zona nyamanku, yaitu HOME and FAMILY...
berlinanglah air mataku ketika aku harus terpisah dengan mereka, entah mereka sedih juga terpisah denganku atau tidak, hanya Tuhan yang tahu...
aku masuk kedunia baru bernama "PONDOK PESANTREN AL-FALAH PUTERA", aku masuk asrama Ibnu Khaldun, di lantai dua di atas asrama Imam Bukhari, asramaku menghadapi dua lapangan sepak bola khusus untuk santri baru, tapi kenyataannya TIDAK!
lapangan kami sering diserobot santri lama, bahkan parahnya lagi bola kami sering menjadi 'milik mereka', itu yang gak enaknya...
pertama kali aku masuk asrama, aku bertemu dengan anggota asrama Ibnu Khaldun yang lebih awal masuk, mereka masuk pada hari rabu..
berikut sejarah singkat tentang Ibnu Khaldun "Bapak Sosiologi'..
Berbicara tentang seorang cendekiawan yang satu ini, memang cukup unik
dan mengagumkan. Sebenarnya, dialah yang patut dikatakan sebagai pendiri
ilmu sosial. Ia lahir dan wafat di saat bulan suci Ramadan. Nama
lengkapnya adalah Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin
Abi Bakar Muhammad bin al-Hasan yang kemudian masyhur dengan sebutan
Ibnu Khaldun. lahir di Tunisia pada tanggal 1 Ramadhan 732 H, bertepatan
dengan tanggal 27 Mei 1332 M. Nama kecilnya adalah Abdurrahman,
sedangkan Abu Zaid adalah nama panggilan keluarga, karena dihubungkan
dengan anaknya yang sulung. Waliuddin adalah kehormatan dan kebesaran
yang dianugerahkan oleh Raja Mesir sewaktu ia diangkat menjadi Ketua
Pengadilan di Mesir.
Pemikirannya dalam bidang pendidikan bermula dari presentasi
ensiklopedia ilmu pengetahuannya. Hal ini merupakan jalan untuk membuka
teori tentang pengetahuan dan presentasi umum mengenai sejarah sosial
dan epitomologi berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan.Menurut Ibnu
Khaldun, ilmu pengetahuan mengelompokkan ilmu pengetahuan menjadi dua
macam, yakni; pengetahuan rasional dan pengetahuan tradisional.
Pengetahuan rasional adalah pengetahuan yang diperoleh dari kebaikan
yang berasal dari pemikiran yang alami. Sedangkan pengetahuan
tradisional merupakan pengetahuan yang subjeknya, metodenya, dan
hasilnya, serta perkembangan sejarahnya dibangun oleh kekuasaan atau
seseorang yang berkuasa.
Ibn Khladun adalah perkecualian dari dunia pemikiran Arab. Di saat dunia
pemikiran Arab mengalami kemandegan, Ibn Khaldun justru muncul dengan
pemikirannya yang cemerlang. Ibn Khaldun yang bernama lengkap Abu Zaid
Abd-Ar-Rahman Ibn Khaldun (1332-1406), seorang sejarawan besar Islam
pada abad pertengahan. Khaldun lahir pada 27 Mei 1332 di Tunis (sekarang
Tunisia). Keluarga Ibn Khaldun berasal dari Hadramaut dan masih
memiliki keturunan dengan Wail Bin Hajar, salah seorang sahabat Nabi
SAW.
Khaldun yang terlahir dari keluarga
Arab-Spanyol sejak kecil sudah dekat dengan kehidupan intelektual dan
politik. Ayahnya, Muhammad Bin Muhammad seorang mantan perwira militer
yang gemar mempelajari ilmu hukum, teologi, dan sastra. Bahkan di usia
17, Khaldun telah menguasai ilmu Islam klasik termasuk ulum, aqliyah
(ilmu kefilsafatan, tasawuf, dan metafisika). Tunisia ketika itu
merupakan pusat para ulama dan sastrawan yang memungkinkan Ibn Khaldun
muda banyak belajar dari mereka.
Selain menggemari dunia
pengetahuan, Ibn Khaldun juga terlibat dalam dunia politik. Ia pernah
menjabat Shabib al’Allamah (penyimpan tanda tangan) pada pemerintahan
Abu Muhammad ibn Tafrakin di Tunis. Ketika ia menduduki jabatan tersebut
usianya baru menginjak 20 tahun. Situasi politik yang tidak menentu
membuat Ibn Khaldun berpindah-pindah pekerjaan. Situasi politik tersebut
juga mempengaruhi karir hidupnya. Ketika ia menjabat sebagai sekretaris
Kesultanan di Fez maroko, ia menerima tudingan Abu Inan sebagai
komplotan politik yang hendak menyerang Sultan. Khaldun akhirnya masuk
penjara selama 21 bulan gara-gara tudingan tersebut.
Ibn Khaldun
pernah diadili di tempat yang sekarang disebut Tunisia, Algeria, Maroko,
dan di Granada, Spanyol dan telah dua kali dipenjara. Pada 1375 dia
diasingkan di dekat Frenda, Algeria, empat tahun untuk menyelesaikan
karya monumentalnya, al-Mukaddimah. Isi pengantarnya Kitab al-Ibar
(Sejarah Universal). Pada 1382, di kota suci Mekkah, dia ditawari oleh
Sultan kairo untuk menjadi rektor di universitas Islam terkemuka,
Universitas Al Azhar, dia juga ditunjuk sebagai hakim (qadi) Syekh
Maliki Islam. Pada 1400 dia menemani pengganti sultan ke Damaskus dalam
ekspedisi menahan serangan invasi Turki, Tamerlane (Timur Lenk). Ibn
Khaldun menghabiskan beberapa minggu sebagai tamu agung Tamerlene
sebelum kembali ke Cairo, di sana ia meninggal pada 17 Maret 1406.
Kitab
al-Ibar adalah sebuah panduan berharga bagi sejarah Muslim Afrika
Utara. Namun demikian, keenam jilid lain pamornya kalah dengan
Muqaddimah. Di dalamnya, Ibn Khaldun menggarisbawahi sejarah dan ilmu
sosial bahwa ada kesinambungan antara abad kuno dan pertengahan dan
sangat mencerminkan sosiologi modern. Masyarakat, ia percaya, disatukan
oleh kekuatan kesatuan sosial yang dapat ditingkatkan oleh kesatuan
beragama. Perubahan sosial dan dinamika masyarakat mengikuti hukum
empiris ditemukan dan merefeleksikan aktivitas dan iklim ekonomi yang
sejalan dengan realitas.
Sejarawan Arab yang hidup pada abad 14
ini telah memulai penulisan yang berkenaan dengan antopologi. Khaldun
melakukan studi penting tentang faktor sosiologi, psikologi, dan faktor
ekonomi yang berpengaruh terhadap pembangunan, perkembangan, dan
jatuhnya peradaban. Baik Khaldun maupun Herodotus menghasilkan
keilmunamn yang obyektif, analitik, penggambaran etnografi keragaman
kebudayaan di dunia Mediteranian, tetapi mereka juga terkadang
menggunakan informasi dari sumber kedua.
Selama abad pertengahan
(abad 5- 15) ahli injil mendominasi pemikiran Eropa. Para pemikir Eropa
masih berkutat pada pencarian hakikat manusia, yakni sekitar pertanyaan
asal manusia dan perkembangan kultural. Mereka menjawab pertanyaan ini
dengan jawaban masalah kepercayaan religius dan mengajukan ide bahwa
keberadaan manusia dan semua perbedaan manusia adalah ciptaan Tuhan.
Jawaban tersebut sangat teologis meskipun sudah ada keterbukaan berpikkir dibandingkan dengan masa gelap Eropa. Sebagaimana diketahui pemikiran teologi Gereja mendominasi Eropa abad gelap.
Sisi lain yang mempengaruhi pemikiran Eropa
adalah buah eksplorasi mereka ke dunia Timur. Mulai akhi abad 14,
penjelajah Eropa mencari kekayaan di tanah baru yang memberikan gambaran
gambling tentang kebudayaan eksotis yang mereka temui pada perjalanan
mereka di Asia, Afrika, dan tanah yang kita sebut sebagai Amerika.
Tetapi penjelajah-penjelajah ini tidak memahami bahasa-bahasa di mana
mereka datang dan mereka membuat penelitian singkat dan sistematis.
Pada
abad 14 Ibn Khaldun menulis sejarah universal yang mengungkapkan secara
luar biasa luas mengenai kemampuan pembelajaran dan kemampuan yang
tidak biasa dari Ibn Khaldun yang menyusun teori umum untuk perhitungan
perkembangan politik dan social sosial selama berabad-abad. Dia adalah
seorang sejarawan muslim satu-satunya yang menyarankan alasan sosial dan
ekonomi bagi perubahan sejarah, meskipun dibaca dan dikopi
pekerjaannya, tetap tak mengahasilkan pengaruh yang efektif hingga
mendorong pemikiran Barat yang baru diperkenalkan pada abad 19.
Hampir
semua kerangka konsep pemikiran Ibnu Khaldun tertuang dalam
al-muqadddimah. Al-muqaddimah merupakan pengantar dalam karya
monumentalnya al-Ibar wa Diwan al-Mubtada al-Khabar fi Ayyami al-‘Arab
wa al-‘Ajam wa al-barbar wa Man ‘Asarahum min Dzawi as-Sultan al-Akbar
(“Kitab Contoh-contoh Rekaman tentang Asal-usul dan Peristiwa Hari-hari
Arab, Persi, Berber, dan Orang-orang yang Sezaman dengan Mereka yang
Memiliki Kekuasaan Besar”) atau biasa orang menyebut, al-Ibar.
Di
al-muqaddimah tersebut, Khaldun menerangkan bahwa sejarah adalah
catatan tentang masyarakat manusia atau perdaban dunia, tentang
perubahan-perubahan yang terjadi, perihal watak manusia, seperti
keliaran, keramahtamahan, solidaritas golongan, tentang revolusi, dan
pemberontakan-pemberontakan suatu kelompok kepada kepada kelompok lain
yang berakibat pada munculnya kerajaan-kerajaan dan negara-negara dengan
tingkat yang bermacam-macam, tentang pelbagai kegiatan dan kedudukan
orang, baik untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun kegiatan mereka dalam
ilmu pengetahuan dan industri, serta segala perubahan yang terjadi di
masyarakat.
Hal ini sejalan dengan pengertian Sejarah Universal
(atau dunia) yang menginginkan pemahaman atas keseluruhan pengalaman
kehidupan masa lampau manusia secara total untuk melihatnya pesan-pesan
perbedaan pada pesan yang berguna bagi masa depan. Dua masalah yang
mendominasi penulisan sejarah universal, pertama ketersediaan kuantitas
bahan dan keberagaman bahasa di mana di dalamnya tertulis
mengimplikasikan bahwa sejarah universal mengambil bentuk kerja kolektif
atau menjadi sejarah tangan kedua. Kedua, prinsip dari seleksi yang
dihubungkan dengan pemilihan studi untuk membentuk taksonomi sejarah
yang sesuai. Unit-unit tersebut secara geografis (misal benua), periode,
tahap perkembangan atau struktur, peristiwa penting, saling berhubungan
(misalnya komunikasi, perjuangan bagi kekuatan dunia, atau perkembangan
sistem ekonomi dunia), peradaban atau kebudayaan, kekaisaran dan negara
bangsa, atau komunitas terpilih. Sejarah universal telah ditulis
terutama oleh sejarawan Barat atau sejarawan dari Asia Barat termasuk
Ibnu Khaldun.
Khaldun bahkan memerinci bahwa ekonomi, alam, dan
agama merupakan faktor yang memengaruhi perkembangan sejarah. Meski
punya pengaruh, faktor ekonomi, alam dan agama bagi Khaldun bukan
satu-satunya faktor yang menentukan gerak sejarah. Ia mengatakan bahwa:
"Keadaan
alam, bangsa-bangsa, adat istiadat, dan agama tidak selalu berada dalam
alur yang sama. Semua berbeda sesuai dengan perbedaan hari, masa, dan
perlahian dari suatu keadaan ke keadaan lain. Perbedaan itu berlaku pada
individu-individu, waktu, dan kota seperti halnya berlaku pada seluruh
kota, masa dan negara.
Salah satu sumber kesalahan dalam penulisan
sejarah adalah pengabaian terhadap perubahan yang terjadi pada zaman dan
manusia sesuai dengan berjalannya masa dan perubahan waktu.
Perubahan-perubahan tersebut terjadi dalam bentuk yang tidak kentara,
lama baru dapat dirasakan, sehingga sukar dilihat dan diketahui beberapa
orang saja."
Pendek kata, bagi Khaldun, ekonomi, alam, dan agama merupakan kesatuan yang memengaruhi gerak sejarah.
Teori
siklus gerak sejarah sebagaimana yang dia pikirkan didasarkan pada
adanya kesamaan sebagian masyarakat satu dengan masyarakat yang lain.
Teori ini sebenarnya merupakan tafsir atas pemikiran Khladun, Khladun
sendiri sebenarnya tidak menyampaikannya secara eksplisit. Satu hal yang
disampaikan Khaldun secara eksplisit adalah pemikirannya tentang
sejarah kritis. Menurut Khaldun:
"Apabila demikian halnya, maka
aturan untuk membedakan kebenaran dari kebatilan yang terdapat dalam
informasi sejarah adalah diasarkan kemungkiknan atau
ketidakmungkinan...Apabila kita telah melakukan hal
demikian, makia kita telah memiliki aturan yang dapat dipergunakan untuk
membedakan anatara kebenaran dan kebatilan dan kejujuran dari
kebohongan dalam informasi sejarah dengan cara yang logis...selanjutnya
apabila kita mendengar tentang suatu peristiwa sejarah yang terjadi
dalam peradaban, maka kita harus mengetahui apa yang patut diterima akal
dan apa yang merupakan kepalsuan. Hal ini merupakan ukuran yang tepat
bagi kita, yang dapat dipergunakan oleh para sejarawan untuk menemukan
jalan kejujuran dan kebenaran dalam menukilkan peristiwa sejarah."
Pemikiran
Khaldun tentang sejarah kritis ini merupakan satu pemikiran yang
melandasi pemikiran modern orang Eropa tentang sejarah pada periode
selanjutnya. Bagaimanapun Jean Bodin (1530-1596), Jean Mabilon
(1632-1707), Betrhold Georg Niebur (1776-1831), hingga Leopald van Ranke
(1795-1886), membaca atau tidak al-Muqadimmah, pemikirannya sejalan
dengan Ibnu Khladun. Dari sini kita bisa tahu bahwa Ibnu Khaldun adalah
perkecualian. Ia bukan saja pemikir yang selalu berpikir tentang hal-hal
yang abstrak melainkan pemikirannya berasal dari tanah tempat di mana
dia berpijak. Memahami pemikiran Ibnu Khaldun sama halnya memahami
pemikiran seorang Islam yang berani mengkritik bangsanya. Terutama
sekali pemikiran seorang yang sangat rasionalis namun tidak kehilangan
rasa dan keimannya pada Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar